Cerita ini adalah "Hashire Merosu" Cerita pendek dari jepang yang dibuat di tahun 1940, merupakan karya dari Osamu Dazai."Cerita Hidup si Gembala"Published by Ratu Vienny Fitrilya on August 4, 2015 | 73 Responses.Salah satu kebiasaan buruk yang selalu aku lakukan adalah melompati halaman buku untuk mengetahui akhir dari sebuah cerita. Hingga sekarang itu adalah satu kebiasaan yang tak pernah berubah.
Tapi bukan berarti aku berhenti ketika mengetahui akhirnya.
Bagaimana bisa sampai kesana?Apa yang telah terjadi sehingga berakhir seperti itu?Aku kira aku hanya memancing pertanyaan-pertanyaan itu untuk keluar dari kepalaku.
Dan kemarin aku membaca sebuah cerita tentang seorang gembala yang tinggal di suatu desa hanya bersama Adik dan domba-domba kesayangannya yang ia miliki. Tanpa Ayah, Ibu, maupun Istri.
Suatu pagi ia pergi ke kota untuk mencarikan gaun pengantin untuk adiknya yang akan segera menikah dengan pria jujur dari desa yang sama.
Dengan mengantongi niat membuat adik satu-satunya senang di hari pernikahannya. Walaupun harus melewati padang rumput dan mendaki bukit sejauh 40 kilometer. Ia tetap berjalan dengan riang tanpa sekalipun mengeluh.
sesampainya di Kota ia sesegera mungkin mendatatangi toko gaun dan makanan untuk pernikahan sang adik. Setelah semua hal yang ia perlukan sudah lengkap ia menyusuri jalan-jalan di kota tersebut.
Setapak demi setapak.
Ia mulai sadar ada sesuatu yang salah… sesuatu yang aneh…
Kota itu terasa terlalu sunyi.
Bukankah dahulu desa ini adalah desa yang ramai? orang-orang tak henti-hentinya bersenandung? Pikirnya.
Masih menyusuri jalan yang sama ia bertemu dengan lelaki muda dan bertanya. “Apakah yang terjadi di Kota ini? Mengapa semua terasa terlalu sepi?”
Lelaki muda itu hanya menatapnya sesaat lalu melanjutkan perjalanannya meninggalkan si gembala tadi dengan pikiran bertanya-tanya.
Tak lama kemudian ia melihat sosok lelaki tua, bertekad untuk mengetahui apa yang terjadi ia pun menanyakan hal yang sama.
berbeda dengan lelaki muda tadi lelaki tua itu pun menjawab. Dengan nafas berat seakan takut akan sesuatu ia berbisik,
“Sang raja membunuh…”
“Mebunuh? membunuh siapa dan kenapa?” tanya si gembala.
“Dia selalu bersikeras dia memiliki alasan untuk membunuh mereka. Aku tidak tahu persis. Menurutku itu hal tak masuk akal.”
“Mereka? dia membunuh tak hanya satu orang?” Kali ini si gembala menatap lelaki tua itu tak percaya.
Lelaki tua menata sekelilingnya seakan tak boleh ada seorangpun yang mendengar percakapan mereka berdua yang diterangi sinar bulan malam itu. “Tidak. Pertama-tama istri lalu anak-anaknya. Dan sekarang ia mulai membunuh para prajurit dan rakyat yang tak bersalah. Setahuku dia sudah membunuh 6 orang hari ini.” ia semakin mengecilkan suaranya.
Si gembala yang terlahir sebagai orang yang taat walaupun tidak tahu menahu mengenai persoalan politik tapi ia selalu merasa terganggu jika ada seseorang yang berbuat tidak adil.
Lalu seketika ia teringat dengan sahabatnya yang tinggal di kota itu. Bagaimana jika ia juga dibunuh?
Hanya berbekal informasi yang ia dengar dari lelaki tua tadi ia berjalan menuju kastil dengan niat untuk menemui sang raja.
Alih-alih bertemu dengan sang raja ia langsung dihalang oleh para penjaga kastil. Mereka langsung memeriksa barang apa saja yang ia bawa. Tanpa diduga-duga mereka menemukan belati dalam salah satu kantong si gembala tadi.
Malapetaka bagi si gembala. Para penjaga langsung menyeretnya ke hadapan sang raja.
“Apa yang ingin kau lakukan dengan belati di tanganmu itu?”
Melihat wajah pucat tanpa ekspresi yang menatapnya dengan datar si gembala merasa muak.
“Aku ingin menyelamatkan orang-orang tak berdosa atas nama keadilan.”
“Kamu sama sekali tidak mengerti dengan cara-ku mengatasi ini.” ia tersenyum picik menekankan kata cara seakan-akan meremehkan si gembala yang ada hadapannya.
“Aku pikir aku tahu. Meragukan kesetiaan dan kejujuran adalah hal yang tidak baik. Bahkan kau meragukan hal tersebut dari orang-orangmu sendiri!”
Sang raja menarik nafas dalam, “Orang-orang itulah yang membuatku begini. Kamu tidak bisa bergantung pada perasaan. Semua orang terlahir egois. Kamu tidak bisa percaya pada mereka.”
“Tentu saja aku ingin merasakan kedamaian.”
Ada sedikit rasa iba menggores hati si gembala. Tapi rasa marahnya lebih mengalahkan semuanya. Teringat bagaimana heningnya kota yang didatanginya tadi. Sama sekali berbeda dengan memori yang ia miliki 2 tahun lalu.
“Kamu tak kalah egoisnya! melakukan semua hal ini dengan mengatasnamakan statusmu sebagai raja! membunuh orang tak bersalah, apakah itu definisi damai menurutmu?”
Sang raja teramat marah mendengar kata-kata yang ia dengar. “Kamu lihat saja kamu akan memohon pengampunan. Meminta hidupmu kembali dan menangis layaknya bayi!”
Sekita si gembala teringat pada adiknya yang ada di desa. Jika ia akan di eksekusi bagaimana dengan nasib sang adik?
Si gembala menarik nafas dalam menatap sang raja,
“Berikan aku 3 hari. Aku harus kembali ke desa dan datang ke pernikahan adikku. Aku mohon. Aku akan kembali dan menjalankan hukumanku.”
Sang raja tertawa keras, “Apa yang membuatmu berpikir aku akan percaya dengan yang kau katakan! hahaha”
“Aku memiliki satu sahabat yang tinggal di kotamu, kau boleh mendatanginya dan memintanya menggantikan tempatku. Jika dalam 3 hari aku tidak kembali sebelum matahari terbenam kau boleh menghukumnya.”
Dalam hati sang raja sama sekali tidak percaya apa yang keluar dari mulut si gembala. Namun ia pikir akan menyenangkan melihat sahabatnya terbunuh dengan harapan si gembala ini akan kembali padahal tidak.
“Baiklah aku beri kau 3 hari. Jika kamu tidak kembali kamu tahu persis apa yang akan terjadi.”
Malam itu si gembala berlari menuju desa dan tiba keesokan harinya. Pernikahan adiknya pun berjalan lancar. Sebelum kembali ke kota ia berkata pada sang adik,
“Aku masih harus kembali ke kota. satu hal yang perlu kau lakukan adalah jangan menyembunyikan apapun dari suamimu. Jangan pernah meragukan orang lain dan berbohong. Dan kau boleh berbangga bahwa kakakmu ini adalah orang yang patut dihormati.”
Dengan berat hati ia pergi meninggalkan adik dan desa yang begitu ia cintai untuk embali ke kota dan menyelamatkan sahabatnya.
Namun ternyata perjalanan kembali tidaklah semudah yang ia bayangkan.
Tiba-tiba hujan turun dan membuat ia harus melewati sungai yang meluap tepat di depan matanya
“Tuhan tolong saya” itulah kata-kata yang berulang kali ia ucapkan dalam hatinya.
Setelah berhasil berenang dan melewati sungai tersebut cuaca kembali cerah. Namun tak lama kemudian…
“Berikan semua yang kamu miliki!”
3 orang bandit menghadang perjalanan si gembala.
“Tapi yang kumiliki hanyalah nyawa dan harus kuberikan pada sang raja”
Terpaksa si gembala harus melawan bandit-bandit tersebut.
Bagaimana akhirnya?
Tentu saja bahagia. Si gembala tadi dan sang raja akhirnya saling berteman.
Tapi bukan hal itulah yang terpenting tapi perjelanan setelah si gembala datang dan menemui sang raja.
Dalam cerita tadi sang raja diceritakan sebagai sosok yang takut akan hubungan dengan seseorang. Entah bagaimana mungkin ia pernah kecewa sehingga kehilangan rasa percayanya. Ia-pun akhirnya berubah menjadi sosok yang dingin dan tak percaya dengan kebaikan.
Sedangkan si gembala tadi adalah sosok yang walaupun tidak bergelimangan materi ia sangat percaya dengan cinta dan kebaikan. Baginya ketidakadilan adalah sesuatu yang tak bisa ia tolerir. Makanya walaupun harus membunuh sang raja ia tak keberatan. Atas nama kebaikan.
Si gembala pada akhirnya bisa membuat sang raja percaya bahwa dalam dunia yang kejam ini memang tak semua orang baik. Tapi tidak pula semua orang memiliki hati yang jahat. Dalam diri seseorang pasti ada hati yang putih yang bisa kau sentuh dengan kebaikan.
Sahabat si gembala pun tak keberatan saat si gembala memintanya untuk menggantikan dia sebagai tahanan yang akan dibunuh. Karena si gembala harus kembali ke desanya selama 3 hari dan menghadiri pernikahan adiknya.
Semua orang berpikir ia tak akan kembali dan membiarkan sahabatnya mati menggantikan dirinya.
Tapi ia kembali.
Seperti yang aku bilang. Tidak semua orang baik, tapi tidak pula semua orang jahat. Dengan ketulusan dan perjuangan si gembala tadi sesuatu dalam hatinya pun tersentuh. Percayalah, sekeras apapun hati itu jika kita sentuh dengan hati yang tulus pasti akan luluh juga.
Perkenalkan,
ialah Melos.
Sekarang cerita ini jadi salah satu cerita klasik di Jepang, seperti cerita Si kancil dalam negeri.
Cerita ini pernah di artikan dalam bahasa inggris, agar mampu di baca kepada para pembaca universal diseluruh dunia dan di post dalam sebuah blog pribadi : https://rawrvolitans.wordpress.com/2011/06/23/run-melos-osamu-dazai/
Makna dalam cerita ini sungguh amat dalam jika kita mampu menyimak kata demi kata dari cerita tersebut, viny mengartikan sebagai berikut
"Tidak semua orang baik, tapi tidak pula semua orang jahat. Dengan ketulusan dan perjuangan si gembala tadi sesuatu dalam hatinya pun tersentuh. Percayalah, sekeras apapun hati itu jika kita sentuh dengan hati yang tulus pasti akan luluh juga."
Alangkah baiknya Melos sebagai manusia, tak punya rasa takut walaupun harus nyawanya yang harus terambil, demi tegaknya kebenaran ia berjuang sekuat tenaga.
0 komentar:
Posting Komentar