Minggu, 19 Juli 2015

OLD SCHOOL : INTERMEZZO

Viny tidak tahu apa yang harus ia lakukan
Ia terpaku pada suatu tempat, tubuhnya kaku dan tak bisa digerakan.
Tempat itu luas, tak ada lantai atau dinding semua nampak sama, ia seperti berada diruang hampa udara tapi anehnya ada oksigen di ruangan ini.
Ia melihat ke arah bawah,menengok kearah samping dan juga atas. Semua hitam, tak ada yang bisa dilihat atau pun dirasakannya..
Tak lama kemudian, ada titik putih di hadapan depan viny. itu seperti sebuah cahaya besar di tempat yang jauh menurut viny.
Cahaya putih itu menarik viny, dan seolah olah viny terhisap olehnya. Viny berteriak sekeras mungkin, namun anehnya tidak ada suara yang keluar. Tubuhnya tergoncang hebat, ia tak mampu menggerak’an tubuhnya, ia pasrah. Dan akhirnya ia memejamkan matanya karena tak kuat melihat cahaya yang sangat cerah benderang..
Saat ia membuka matanya, tubuhnya berasa sangat sakit, hampir disetiap tubuh merasakan keram yang sangat kuat.
Viny mencoba berdiri,menguatkan tubuhnya.
Ahhhhh.. ia gagal pada percobaan pertama, tubuhnya terasa sangat lemas. Viny menguatkan dirinya dan pada percobaan kedua ia berhasil berdiri, walaupun paksaan membuat kepalanya pening..
Viny mencoba melihat keaadan sekitar, dan tampak didepannya ada sebuah gedung sekolah tua dengan gaya bangunan eropa. Ada plank nama diatasnya bertuliskan ‘High school Hav..rd ....’  sebagian katanya hilang karena berkarat. Ini seperti sarang drakula, pikir viny. Banyak jendela yang tidak mempunyai kaca, dindingnya  berlumut, dan dibagian lantai yang atas terdapat lonceng yang berkarat.
Ia seperti merasakan seperti ada orang dibelakangnya, ia berbalik arah. Ternyata ada papah, mamah dan desy adek perempuanku.. “Uh syukurlah kalian disini” kata viny., tapi mereka hanya diam, dengan sorotan mata dan ekpresi muka yang sedih. Tapi tunggu.. mereka membawa koper hijau-ku dan tjiwi boneka panda-ku. “apakah aku akan ditinggalkan disini” pikirku
Ternyata itu benar., papah dan mamah melangkah satu kali, papah membawa koper, sementara mamah membawa tjiwi. Mereka menatap mata viny, viny hanya diam dengan pikiran yang bertanya tanya, tak habis pikir baginya. “vin kamu sekolah yang pinter disini, cari temen jangan suka hidup sendiri ” - kata papah. “Baca buku inget waktu. jangan suka makan mie, ngga baik buat kesehatanmu” kata mamah..
 Aku memegang tangan papah dan mamah, tangan mereka terasa sangat dingin. Seperti orang yang hidup di kutub utara. Lama kelamaan tubuh mereka seperti sebuah butiran debu, viny terlepas dari tangan papah dan mamah. Sebelum viny bertanya “dimana kah ini?” , papah mamah dan desy. sudah hilang seperti butiran debu yang terbawa oleh angin mereka hilang entah kemana. “samangat kak viny” seperti kudengar suara desy dari langit – langit.
“pah mah kalian dimana?” viny berteriak sekeras mungkin, ia berteriak ke arah langit langit seolah mengharapkan kembali kehadiran papah mamah dan desy. Tapi ternyata mereka tak kembali, tenggorokan viny terasa sangat sakit. Ia menghabiskan seluruh energy-nya untuk berteriak. Tubuhnya terasa lemas lagi, seperti dalam keadaan saat ia pertama disini. Ia baru menyadari ternyata ini bukanlah malam hari , apalagi siang hari. Terdapat banyak bintang dilangit langit, tapi ini begitu sangat terang bagi langit di malam hari.



0 komentar:

Posting Komentar

Copyright © 2015 Tulisan Viny | Distributed By Blogger Template | Designed By Blogger Templates
Scroll To Top